Kamis, 14 November 2013

bab 7 - perilaku konsumen

PEMBELAJARAN KONSUMEN


A. Pengertian Pembelajaran

Assel (1992) mendefinisikan pembelajaran konsumen sebagai suatu perubahan dalam perilaku yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman masa lalunya.
Perilaku konsumen yang demikian disebut pengaruh perilaku (behavioural influence).
Dalam pembelajaran konsumen terdapat dua aliran:

1.         Aliran Behaviorist yang memandang bahwa perubahan respons konsumen merupakan hasil  dari paparan rangsangan (stimuli exposure).
2.         Aliran kognitip memandang pembelajaran sebagai penyelesaian masalah. Fokus perhatiannya adalah perubahan dalam psikologikal set konsumen (persepsi, sikap, gaya hidup, dll).



B. Teori Pembelajaran

   Teori pembelajaran perilaku kadang-kadang disebut teori stimulus-tanggapan karena didasarkan pada pemikiran bahwa tanggapan yang nyata terhadap stimuli-tanggapan eksternal tertentu memberi pertanda bahwa pembelajaran telah terjadi. 

 Pengkondisian klasik
 Ivan Pavlov, Psikolog Rusia, adalah yang pertama menggambarkan pengkondisian dan mengemukakannya sebagai model umum mengenai cara terjadinya pembelajaran.menurut teori Pavlov, pembelajaran yang dikondisikan terjadi jika stimulus tertentu yang dipasangkan dengan stimulus lain yang mendatangkan tanggapan yang dikenal menimbulkan tanggapan yang sama jika digunakan sendiri saja. 

Pembelajaran Asosiasi Kognitif

Teori pengkondisian yang terakhir memandang pengkondisian klasik sebagai pembelajaran asosiasi di antara berbagai peristiwa yang memungkinkan organisme untuk mengantisipasi dan “mewakili” lingkungannya.pengkondisian klasik dipandang sebagai pembelajaran asosiasi kognitif. Bukan perolehan refleks baru, tetapi merupakan perolehan pengetahuan baru mengenai dunia.


Aplikasi Strategis Pengkondisian Klasik
Tiga konsep pokok yang berasal dari pengkondisian klasik adalah:
Þ Pengulangan
Þ Generalisasi stimulus
   o Perluasan lini,bentuk,dan golongan produk
   o Pemakaian merk gabungan (family Branding)
   o Pemberian lisensi (licensing)
   o Menggeneralisasikan situasi pemakaian
Þ Diskriminasi stimulus
   o Pengaturan posisi
   o Diferensiasi Produk




Pengkondisian Instrumental
Para pakar teori pembelajaran instrumental percaya bahwa pemebelajaran terjadi melalui proses mencoba (trial and error), dimana kebiasaan dibentuk sebagai hasil ganjaran yang diterima untuk tanggapan dan perilaku tertentu.
Nama yang sangat erat hubungannya dengan Pengkondisian Instrumental (Operant) diberikan oleh psikolog Amerika, B,F, Skinner, kebanyakan pembelajaran individu terjadi pada lingkungan yang dapat dikendalikan di mana para individu “memperoleh ganjaran” jika berhasil memilih perilaku yang tepat.


Penguatan Perilaku
Skinner membedakan dua tipe penguatan ( atau ganjaran ) yang mempengaruhi kemungkinan bahwa tanggapan tertentu akan berulang. Tipe pertama, penguatan positif,terdiri dari berbagai peristiwa yang memperkuat kemungkinan timbulnya tanggapan khusus. Penguatan negative merupakan hasil yang tidak menyenangkan atau negative yang juga mendorong timbulnya perilaku khusus.


Melupakan dan Mengahapus Ingatan
Jika tanggapan yang dipelajari tidak lagi diperkuat, maka akan menghilang sampai tingkat penghapusan; yaitu sampai tingkat dimana hubungan antara stimulus dan ganjaran yang diharapkan hilang.


Aplikasi Strategis Pengkondisian instrumental
Para pemasar secara efektif menggunakan berbagai konsep pembelajaran instrumental konsumen ketika mereka memberikan penguatan positive dengan menjamin kepuasan konsumen terhadap produk, jasa, dan keseluruhan pengalaman membeli.
Þ Kepuasaan (penguatan) Pelanggan
Þ Urutan penguatan
Þ Pembelajaran terkumpul versus pembelajaran terdistribusi



Pembelajaran Melalui Peragaan atau Pengamatan
Para pakat teori pemebalajaran memperhatikan bahwa sebagian besar pemebelajaran terjadi dalam keadaan tidak adanya penguatan langsung, baik yang positive maupun negative melalui proses yang disebut para psilokolog pembelajaran melalui peragaan atau pengamatan.


Teori Pembelajaran Kognitif
Pembelajaran berdasarkan pada kegiatan mental disebut pemebelajaran kognitif. Teori pemebelajaran kognitif mengganggap bahwa pemebelajaran uang menjadi ciri khas manusia adalah pemecahan masalah, yang memungkinkan para individu dapat mengendalikan lingkungan mereka. Tidak seperti teori pembelajaran prilaku, teori mengganggap bahwa pembelajaran menyangkut pengolahan mental yang kompleks terhadap informasi.

Pengolahan Informasi
Pengolahan informasi berkaitan dengan kemampuan kognitif konsumen maupun kompleksitas informasi yang akan diolah.
Cara Konsumen Menyimpan, Mempertahankan, dan Mengingat kembali informasi 
Yang sangat penting dalam pengolahan informasi adalah daya ingat manusia. Struktur Ingatan karena pengolahan informasi terjadi dalam beberapa tahap yaitu;
Þ Penyimpanan Sensoris
Þ Penyimpanan jangka panjang
Þ Penyimpanan jangka pendek
Þ Pengulangan dan penyandian
Þ Penyimpanan
Þ Mengingat kembali
Þ Pengolahan informasi terbatas dan luas



Teori Keterlibatan
Teori keterlibatan berkembang dari aliran riset yang disebut hemispheral lateralization atau teori belah otak. Dasar pemikiran belah otak adalah bahwa hemisfer otak sebelah kanan dan kiri “mengkhususkan diri” pada macam informasi yang mereka olah.
Þ Teori Keterlibatan dan strategis Media
Þ Teori Keterlibatan dan relevansinya bagi konsumen
Þ Rute Tengah dan Samping untuk Melakukan Persuasi
Þ Model Kemungkinan Pembahasan Model Kemungkinan Pembahasan
Þ Ukuran Keterlibatan


Ukuran Pembelajaran Konsumen
Meningkatanya pangsa pasar dan konsumen yang setia pada merk, bagi kebanyakan pemasar, merupakan sasaran ganda dari pembelajaran konsumen.
Þ Ukuran Pengenalan dan Ingatan
Þ Tanggapan Kognitif terhadap Iklan
Þ Ukuran Sikap dan Perilaku pada Kesetiaan Terhadap Merk



Ekuitas Merk
Istilah ekuitas merk merujuk pada nilai yang terkandung dalam suatu merk terkenal. Dari perspektif konsumen, ekuitas merk merupakan nilai tambah yang diberikan pada produk oleh merk



C. Ilustrasi Teori Pembelajaran

1.   Ilustrasi dari classical conditioning(membiasakan)
·        Pavlov àeksperimen terhadap anjing
·        Membiasakan sesuatu kepada konsumen sehingga ada stimulus

2. Ilustrasi dari instrumental conditioning(belajar dari kesalahan)
·        Jika suatu stimulus yang diberikan mendapat respon negative atas pengalamannya dimasa lalu maka konsumen tidak akan menerima stimulus tersebut untuk masa akan datang (belajar dari kesalahan)

3. Ilustrasi dari cognitive learning
·        konsumen berprilaku menyelesaikan masalah
·        Masalah tersebut diselesaikan dengan cara mencari informasi berbagai produk  yang mungkin menyelesaikan masalah yang di hadapi.

4. Ilustrasi pembelajaran pasif
·        penerapannya pada media sebagai sarana memasang iklan  (produk dengan tingkat keterlibatan rendah.
·        informasional tetapi berupa symbol-simbol dan penimbulan kesan dalam penyampaian pesan terhadap konsumen.


D. Relevansi Pengaruh Perilaku dan Cognitive Learning pada Pemasaran

Pendekatan perilaku mungkin akan sangat cocok untuk kondisi yang aktivitas kognitifnya (pengenalan masalah, pencarian informasi yang ekstensif, evaluasi alternatif, mengambil keputusan dan mengevaluais keputusan pembelian) adalah minimal. Pendekatan perilaku akan cocok untuk konsumen yang tidak begitu terlibat dalam pembelian produk. Mungkin mereka akan merasa membuang-buang waktu untuk mencari infomasi yang berhubungan dengan pembelian pasta gigi, sabun mandi, dan lain-lain.
Teori pembelajaran kognitif lebih relevan untuk produk yang penting dan memerlukan keterlibatan tinggi.


E. Loyalitas Konsumen

Loyalitas konsumen dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu loyalitas merek (brand loyality) dan loyalitas toko (store loyality).Assael (1992) mengemukakan empat hal yang menunjukkan kecenderungan konsumen yang loyal sebagai berikut: 


1.         konsumen yang loyal terhadap merek cenderung lebih percaya diri terhadap pilihan.
2.         konsumen yang loyal lebih memungkinkan merasakan tingkat resiko yang lebih tinggi dalam pembeliannya. 
3.         konsumen yang loyal terhadap merek juga lebih mungkin loyal terhadap took.
4.         kelompok konsumen yang minoritas cenderung untuk lebih loyal terhadap merek.

F. Pembelajaran Vicarious

Teori mengatakan bahwa orang belajar tanpa harus menerima ganjaran gataupun hukuman, seperti yang diyakini oleh pengikut teori instrumental conditioning. Bila seseorang melihat atau mengetahui bahwa orang lain mengalami kepuasan dalam menggunakan suatu produk, karena seolah-olah ia mengalami sendiri.
  


Sumber :

Jumat, 08 November 2013

tugas 1 - perilaku konsumen


AUTOBIOGRAFI

Hai,nama saya Elizabeth Tia Anggraeni . Saya lahir di Surabaya tanggal 16 Juli. Saya anak pertama dari 2 bersaudara. Ayah saya sekarang bekerja sebagai wiraswasta dan ibu saya sebagai ibu rumah tangga. Saya juga mempunyai seorang adik laki-laki dan dia sekarang juga sudah kuliah.
Pada waktu saya TK B waktu untuk bermain saya kurang karena di TK yang saya masuki itu memiliki system dimana anak-anak TK disana sudah harus bisa baca tulis dan berhitung.  Oleh karena itu orang tua saya mendidik saya dengan keras.

Masa-masa SD, saya bersekolah di SDK Penabur 9. Pada waktu SD saya tidak begitu menonjol, tetapi dari SD saya sudah suka mengikuti ekstarkulikuler yang berhubungan dengan music seperti : eksul kolintang dan angklung, vocal, tari tradisional. Dari SD saya sudah sangat menyukai music. Waktu saya kelas 3 atau kelas 4 (saya agak lupa), saya pernah tampil menari di TMII dan pernah tampil mengisi kolintang di suatu acara dan di gereja. Saya sangat menyukainya walaupun saya tidak menonjol dalam prestasi. 

Dan pada akhirnya saya lulus juga dari SD tersebut.


Pada masa SMP, saya bersekolah di SMP Bunda yang berada di Bogor. Banyak sekali kenangan yang tak terlupakan pada masa-masa SMP. Di masa ini saya merasakan kekeluargaan di sekolah baik dengan teman-teman, adik-adik kelas maupun guru-gurunya. Lagi –lagi di saat SMP saya mengikuti banyak sekali ekskul tetapi sekarang lebih beragam seperti : karate, vocal (tetep), dance, KIR. Di saat SMP lah saya juga menjadi anggota OSIS, bagaimana susahnya menjadi OSIS sudah saya rasakan tetapi walaupun begitu  pengalaman sangat berarti, dan selain itu disaat SMP prestasi saya mulai terlihat saya kelas 1-2 SMP menjadi juara 2. Saya juga pernah mengikuti lomba gerak jalan yang diikuti beberapa sekolah dan pernah ikut lomba nyanyi ( walaupun ga menang) . Belum sampai lulus saya harus pindah karena masalah jarak rumah yang terlalu jauh . 

Saya akhirnya pindah ke SMP Corpatarin yang dekat dengan rumah dan saya lulus disana.


Di masa SMA, saya bersekolah di SMAN 103 Jakarta Timur. Pada saat masuk saya mendapat kelas X6, di kelas itu saya punya teman-teman yang asik-asik dan pada saat saya kelas 2, saya masuk XI IPA 1. Disaat kelas 2 lah saya mulai mengikuti organisasi yaitu organisasi rohani. Saya di rokris mendapat bagian menjadi seksi doa. Dalam organisasi rohani ini saya banyak sekali mendapatkan pengalaman yang berharga baik dalam kerja sama dan bertukar pikiran untuk acara-acara yang kita buat dan juga bagaimana caranya mendapatkan dana dan bagaimana kita mempertanggung  jawabkan apa yang kita ajukan di depan guru-guru.  Pada saat kelas 3 saya masuk kelas XII IPA 1 . Pada saat kelas 3 masa jabatan saya habis di organisasi rokhis dan mulai mencari kader baru untuk mengisinya . Disaat itu pula saya mulai sibuk untuk persiapan UN dan UAS selain itu mulai sibuk untuk persiapan masuk kuliah.
Setelah segala persiapan itu di lalui, akhirnya saya dapat lulus dari SMA. Setelah itu saya mulai mempersiapkan masuk kuliah. 


Saya mengikuti SNMPTN dan ternyata saya tidak lolos, saya tidak  menyerah begitu saja demi meraih apa yang saya impikan dan megikuti tes SIMAK UI tetapi hasilnya diluar dugaan saya ternyata saya tidak lolos lagi, saya sangat terpukul dengan hasil itu. 


Tadinya saya tidak mau kuliah dulu menunggu 1 tahun lagi dan mencoba lagi ikut tes tersebut, tetapi akhirnya saya memutuskan untuk kuliah. 
Akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Universitas Gunadarma dan mengambil jurusan manajemen. Sekarang saya masih berkuliah di Universitas Gunadarma dan sekarang saya sedang semester 5.




Semoga kita semua lulus sama-sama kawan.... Fighting !!!!

Kamis, 07 November 2013

bab 6 - perilaku konsumen


PERSEPSI KONSUMEN



Stimuli Pemasaran dan Persepsi Konsumen

1.   Stimuli pemasaran adalah setiap komunikasi / stimuli fisik yang didesain untuk mempengaruhi konsumen. Produk & komponennya (kemasan, isi, ciri fisik) adalah stimuli utama. Komunikasi yang didesain untuk mempengaruhi konsumen adalah stimuli tambahan yg mempresentasikan produk (kata-kata, gambar, & simbol) atau melalui stimuli lain seperti harga, tempat penjualan & sales.

2.   Stimuli lingkungan adalah stimuli fisik yg di desain untuk mempengaruhi keadaan lingkungan. Faktor kunci yg menentukan persepsi konsumen :
a.  Karakteristik stimulus yang mempengaruhi persepsi : elemen indera & structural.
b.  Kemampuan konsumen untuk mendeteksi perbedaan dalam suara, cahaya, bau dan stimuli lainnya. 

Karakteristik Stimulus yang Mempengaruhi Persepsi


Terdapat 2 (dua) karakteristik stimulus yang mempengaruhi persepsi:

1.   Sensory mempengaruhi bagaimana suatu produk dirasakan, meliputi faktor : warna, bau, rasa.
2. Faktor struktural meliputi ukuran iklan, posisi penempatan iklan, warna dan kontras.


Karakterisik Konsumen yang Mempengaruhi Persepsi

Terdapat 5 (lima) karakteristik konsumen yang mempengaruhi persepsi, yaitu:
1.   Membedakan stimulus :
apakah konsumen bisa merasakan perbedaan antara dua atau lebih stimuli. Apakah konsumen merasakan perbedaan merk berdasarkan rasa, perbaan, harga & bentuk kemasan produk ? Kenyataannya banyak konsumen yang bisa membedakan merk produk berdasarkan rasa, tapi ada juga yang tidak bisa. sehingga pemasar sering menggunakan iklan agar konsumen mampu membedakan merk.

2. Tingkat ambang batas (Threshold level).
Kemampuan konsumen utk mendeteksi perbedaan suara, cahaya, bau dll ditentukan oleh tingkat ambang batas, meliputi :
·        Absolute threshold adalah jumlah rangsangan minimum yg dapat dideteksi oleh indera.
·        Differential threshold adalah kemampuan sistem indera untuk mendeteksi / membedakan antara dua stimuli. Ex : harga odol gigi yg belum pernah dibeli konsumen lebih murah 300 drpd harga odol gigi yg biasa dibelinya. Perbedaan harga 300 tdk mempengaruhi konsumen dlm mengubah pilihannya. Tp jk perbedaan harga 800 maka konsumen bersedia merubah pilihannya.

3. Subliminal perception (persepsi bawah sadar)
adalah kemampuan konsumen memberikan tanggapan terhadap stimulus yang berada di bawah kesadaran. Ex : ketika penonton bioskop sedang menikmati film tiba-tiba diberika dua pesan yg ditayangkan secara cepat sehingga penonton tidak menyadari adanya tayangan pesan tsb. Tapi, secara mengejutkan penjualan produk tersebut justru meningkat.

4. Tingkat adaptasi terjadi jika konsumen tidak lagi memperhatikan stimulus yang berulang-ulang. Ex : ketika konsumen melihat iklan produk dengan diskon 20%, pertama kali konsumen akan tertarik, tapi jika iklan tersebut ditayangkan terus menerus & tidak ada perubahan tingkat potongan harga, konsumen sudah terbiasa & tidak memperhatikan iklan tersebut.

5. Generalisasi stimulus terjadi jika konsumen melihat dua atau lebih stimulus yang mempunyai kesamaan (hubungan yang dekat) dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya, sehingga dapat disubstitusikan. Proses generalisasi sangat dihindari pemasar, karna pemasar berusaha mendiferensiasikan mereknya dengan merek lain. Di pihak lain, pemasar juga mengharapkan generalisasi ketika mereka ingin memperkenalkan produk baru, dengan harapan laku terjual seperti produk yang lama. Kebijakan ini dinamakan family branding. Ex : produsen sirup ABC memperkenalkan produk baru berupa kecap, sambal, saus, sarden.


 Proses Terjadinya Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses diterimanya stimulus melalui pancaindera, lalu stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi.
Persepsi merupakan bagian dari keseluruhan proses yang menghasilkan tanggapan setelah rangsangan diterapkan kepada manusia. Dari segi psikologis, dikatakan bahwa tingkah laku seseorang merupakan fungsi dari cara dia memandang.

Dalam proses persepsi, terdapat tiga komponen utama:
1. seleksi adalah proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar.
2. Interpretasi yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang, interpretasi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman masa lalu, motivasim kepribadian dan kecemasan.
3. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi.
Jadi proses persepsi adalah melakukan seleksi, interpretasi, dan pembulatan terhadap informasi yang sampai.

Proses fisik adalah proses stimulus mengenai alat indera.

Proses fisiologis adalah stimulus yang diterima oleh alat indera diteruskan oleh saraf sensoris ke otak.

Proses psikologis adalah proses yang terjadi di dalam otak.



Peran Ekspektasi pada Persepsi

Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang.



Semiotis

Semiotics adalah pembahasan dari tanda penawaran itu satu keterangan dari bagaimana orang-orang mengekstrak arti dari perkataan, bunyi dan gambar. Satu pemahaman dari semiotics menolong satu perancang untuk menanamkan pekerjaan dengan referensi yang memperbolehkan mereka untuk mengomunikasikan beberapa lapisan dari keterangan ke satu pembaca.



Inferensi Perseptual

Perseptual adalah kemampuan memahami dan menginterpresentasikan informasi sensori atau kemampuan intelek untuk mencarikan makna yang diterima oleh panca indera. Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.



 Implikasi Pemasaran dari Inferensi Perseptual

·        Konsumen cenderung membentuk citra terhadap merek, toko, dan perusahaan didasarkan pada inferensi mereka yg diperoleh dr stimuli pemasaran & lingkungan.

·        Citra : total persepsi trhdp suatu objek, yg dibentuk dgn memproses informasi dr berbagai sumber setiap waktu.




Sumber :















Jumat, 01 November 2013

bab 5 perilaku konsumen


KEPRIBADIAN DAN GAYA HIDUP


Kepribadian dan Perilaku Konsumen

Kepribadian
Setiap konsumen mempunyai karakteristik psikologis yang berbeda-beda terutama dalam menentukan dan merespon lingkungannya. Lingkungan dimana mereka berinteraksi terhadap pengaruh dan perubahan yang mendominasi setiap keputusannya ketika menentukan sebuah pilihan terhadap produk dan jasa tertentu. Konsep kepribadian merupakan seperangkat pola perasaan dan pemikiran perilaku yang memiliki keunikan terhadap respon di berbagai situasi.

Pola perasaan konsumen memiliki ciri khas:
a. kepribadian mencerminkan perilaku masing-masing individu
b. kepribadian bertahan lam dan konsisten
c. kepribadian dapat berubah

Ciri-ciri kepribadian konsumen yang inovatif dan yang tidak inovatif merupakan ciri kepribadian yang dogmatis sehingga orang dengan dogmatis tinggi sulit untuk menerima hal-hal baru karena keyakinan orang ini sangat kuat sehingga harus dipengaruhi oleh figur yang berkuasa atau orang terkenal. Sebaliknya kepribadian dengan dogmatis rendah sangat mudah dipengaruhi oleh informasi baik yang menekankan pada perbedaan produk secara faktual juga informasi tentang kegunaan produk.


Karakteristik Pribadi Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Keputusan membeli dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur hidup pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
· Umur dan Tahap Daur Hidup
· Pekerjaan
· Situasi Ekonomi
· Kepribadian




Teori-Teori Kepribadian

Beberapa teori kepribadian ada 3:
1. Freudian Theory,
2. Neo-Freudian Personality Theory,
3. Trait Theory.

FREUD
NEO FREUD
TRAIT/SIFAT
Dasar Pemikiran: manusia, memiliki dorongan yang tidak disadari
Dasar pemikiran: pembentukan dan pengembangan kepribadian didasari hubungan sosial
Dasar pemikiran: kepribadian manusia bisa diukur menurut karakteristik psikologis khusus yang disebut sifat
Kepribadian manusia dipengaruhi tiga komponen: Id, Superego, Ego
Kepribadian manusia digolongkan ke dalam tiga kelompok: Patuh, Agresif, Lepas dari orang lain (detached)
Manusia berbeda karena adanya sifat berbeda pada setiap individu. Keinovatifan, Marerialisme, Etnosentrisme
Para konsumen sering tidak menyadari alas an mereka mengkonsumsi sesuatu
Perilaku konsumen tergantung bagaimana posisi atau perilakunya dalam lingkungan social
Konsumen membuat pilihan mereka dan dengan pembelian golongan produk yang luas, bukan merek tertentu


Dimensi Kepribadian  

1.Ekstraversi
Suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang senang bergaul dan banyak bicara dan tegas.
2.Sifat menyenangkan
Suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang baik hati, kooperatif dan mempercayai.
3.Sifat mendengarkan kata hati
Suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang bertanggung jawab, dapat
diandalkan, tekun dan berorientasi prestasi
4.Kemantapan emosional
Suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang tenang, bergairah, terjamin (positif), lawan tegang, gelisah, murung dan tak kokoh (negative).
5.Keterbukaan terhadap pengalaman
Suatu dimensi kepribadian yang emncirikan seseorang yang imajinatif, secara artistic peka dan intelektual.


Gaya Hidup

Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan kativitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan. Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang .
Pendekatan gaya hidup cenderung mengklasifikasikan konsumen berdasarkan variabel-variabel Activity, Interest, Opinion, yaitu aktivitas, interes (minat), dan opini (pandangan-pandangan). Menurut Setiadi sikap tertentu yang dimiliki konsumen terhadap suatu objek tertentu bisa mencerminkan gaya hidupnya. Gaya hidup seseorang bisa juga dilihat dari apa yang disenangi, ataupun pendapatnya mengenai objek tertentu.
Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan. Kasali menyatakan bahwa gaya hidup mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang.
Gaya hidup secara luas didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka, apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga di dunia sekitarnya.Perubahan gaya hidup membawa implikasi pada perubahan selera (selera pria dan wanita berbeda), kebiasan dan perilaku pembelian.perubahan lain yang terjadi adalah meningkatnya keinginan untuk menikmati hidup.

Manfaat jika memahami gaya hidup konsumen :
1. pemasar dapat menggunakan gaya hidup konsumen untuk melakukan segmentasi pasar sasaran.
2. pemahaman gaya hidup konsumen juga akan membantu dalam memposisikan produk di pasar dengan menggunakan iklan.
3. jika gaya hidup diketahui, maka pemasar dapat menempatkan iklannya pada media-media yang paling cocok.
4. mengetahui gaya hidup konsumen, berarti pemasar bisa mengembangkan produk sesuai dengan tuntutan gaya hidup mereka


Nilai dan Gaya Hidup

Nilai adalah alat yang menunjukkan alasan dasar bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan. Dan gaya hidup merupakan pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas atau kegiatan, minat, dan pendapatnya.
Orang yang berasal dari subkultur, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat mempunyai gaya hidup yang berbeda. Konsep gaya hidup apabila digunakan oleh pemasar secara cermat, dapat membantu untuk memahami nilai-nilai konsumen yang terus berubah dan bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi perilaku konsumen. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, pemasar harus mmemperhatikan dengan cermat dan menjadi pertimbangan yang  berarti terhadap kepribadian, nilai dan gaya hidup konsumen yang ditujunya dimana mempengaruhi perilaku pembelian konsumen tersebut.


Menggunakan Karakteristik Gaya Hidup dalam Strategi Pemasaran


Aplikasi kepribadian, konsep diri, gaya hidup, psikografi dalam strategi pemasaran :
1. Segmentasi pasar sasaran
contoh :
Pada produk susu mengidentifikasi beberapa kelompok gaya hidup konsumen, yaitu :
§  Konsumen yang menginginkan kesehatan dan kebutuhan gizinya terpenuhi
§  Kelompok konsumen yang sangat memperhatikan kandungan kadar lemak susu karena takut kegemukan
§  Konsumen yang mengkonsumsi karena kebiasaan saja
Berdasarkan ke tiga kelompok ini muncul dua produk yaitu:
Produk dengan kadar lemak dan kandungan gizi yang normal yang diperuntukkan kelompok ke satu dan ke tiga. Jenis produk kedua yaitu susu yang mempunyai kadar lemak yang rendah
2. Membantu dalam memposisikan produk di pasar dengan menggunakan iklan
3. Pemasar dapat menempatkan iklan produknya pada media-media yang paling cocok
4. Pemasar bisa mengembangkan produk sesuai dengan tuntutan gaya hidup mereka


Sumber :